Film karya Yosep Anggi Noen, Istirahatlah Kata-Kata (Solo Solitude) akhirnya tayang serentak di bioskop Indonesia pada 19 Januari 2017. Film berdurasi 97 menit ini mengambil cerita sosok Wiji Thukul, penyair dan aktivis asal Solo yang hilang pada tahun 1998. Wiji merupakan salah satu tokoh yang giat melawan era Soeharto alias orde baru, yang mana berkuasa di Indonesia selama lebih dari 30 tahun dan terus-terusan membunuh tumbuhnya demokrasi. Bulan Mei 1998, ketika Suharto dipaksa lengser oleh rakyat, Wiji Thukul dinyatakan hilang.

Tak banyak informasi lengkap mengenai sejarah Wiji Thukul dalam film, cerita difokuskan pada pelarian Wiji setelah dianggap salah satu aktivis yang bertanggung jawab atas kerusuhan 1996. Wiji pun dijadikan buronan dan menjadi kejaran kacang ijo (tentara).

Dirinya pun harus bersembunyi hingga ke Pontianak, Kalimantan  selama delapan bulan. Kesunyian setiap lokasi persembunyian Wiji sangat terasa dalam film garapan Yosep Anggi Noen ini. Rasa takut yang diciptakan oleh aparat rezim Soeharto berhasil membuat Wiji resah setiap melihat sosok tentara. Sementara sang Istri Sipon di Solo, bersama kedua anak mereka selalu diawasi oleh intel.

Gunawan Maryanto sukses menjadi sosok Wiji Thukul. Seniman asal Yogyakarta ini menampilkan betapa sunyinya menjadi buronan dan harus rela meninggalkan keluarga yang ia rindukan. Perasaan cemas, marah, kecewa,berhasil diluapkan Gunawan.  Sementara Sipon diperankan oleh pembawa acara berita Marissa Anita, Marissa pun tampak matang memerankan Sipon yang cemas dan tak tahu kemana suaminya bersembunyi, serta pengawasan Intel yang dia hadapi tiap harinya. Tak butuh banyak bicara, tatapan mata lesu Marissa dipojok dapur pun terasa betapa resahnya Sipon akan nasib suaminya.  

Pemeran pendukung pun turut memperindah Istirahatlah Kata-Kata, Dhafi Yunan yang memerankan Thomas,  Eduwart Boang Manalu yang memerankan Martin dan Melanie Subono berperan sebagai Ida, istri dari Martin. Tak melulu larut dalam sunyi, film ini diberikan kejenakaan karakter Martin dan Wiji, adegan ketika mereka nongkrong di warung kopi pinggir sungai kapuas itu lah tercipta “Kemerdekaan adalah nasi, dimakan jadi tahi”.

Selain akting mereka, film ini dipercantik dengan pemandangan kota Pontianak tahun 1996, saya terpukau dengan pemandangan pertokoan cina dan bioskop tua yang dijadikan tempat perlombaan tentara. Adegan foto ktp pun terlihat klasik, ditambah adegan di pangkas rambut yang membuat kita tertawa serta kesal sendiri.

Beberapa adegan menyelipkan celetukan Wiji, berikut favorit saya “Apa gunanya banyak baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu.” Film ditutup dengan isak tangis Sipon dan lantunan lagu Bunga dan Tembok yang dinyanyikan oleh anak Wiji, Fajar Merah. Istirahatlah Kata-Kata  menjadi pengingat  atau menolak lupa akan Wiji Thukul dan aktivis lainnya yang hilang dan tak tahu rimbanya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here