Film yang ditunggu-tunggu akhirnya saya tonton juga, ya film Dilan 1990. Film yang diambil dari buku karya Pidi Baiq, buku yang menceritakan kisah cinta Milea dengan panglima tempur geng motor Bandung di tahun 1990. Film Dilan disutradarai oleh Fajar Bustomi, seorang sutradara yang pernah menggarap film yang menyentuh hati berjudul Surat Kecil untuk Tuhan.

Awal film dibuka dengan suasana di jalan kota Bandung yang masih asri belum banyak PKL (pedagang kaki lima) dan cafe-cafe, ya tentu saja karena suasana tahun 1990 sesuai dengan judul filmnya. Seru ya zaman tahun 90an anak-anak SMA masih berjalan kaki untuk sekolah. Tapi di balik suasana yang begitu asri terdapat pencemaran frame berupa mobil SUV kekinian yang parkir di garasi mobil, walau gambar mobilnya blur tapi terlihat jelas bentuknya.  Saya paham untuk membuat sebuah film dengan suasana tempo dulu sangat susah di Indonesia karena industri perfilman belum mempunyai studio khusus indoor seperti yang digunakan film-film luar.

Dialog dalam film sangat khas, bagi kamu yang pernah membaca buku Dilan 1990 pasti akan menikmati setiap dialog dan narasi filmnya. Siap-siap untuk luluh dan tersenyum manja, karena kamu akan hanyut dalam tingkah laku dan rayuan rayuan Dilan yang menurut saya sangat romantis dan unik. Coba bayangkan lelaki mana yang kasih kado dibungkus kantong plastik ke calon pacar. Walau begitu, hadiah tersebut sangat berkesan bagi Milea.

Di balik keunikan Dilan terhadap Milea, Dilan adalah seorang yang ditakuti karena dia adalah panglima tempur geng motor di Bandung. Untuk lelaki-lelaki diluar sana coba contoh Dilan, walau berani tapi mempunyai sisi yang humoris, tegas dan sangat perhatian ke calon pacar, Dilan tidak ingin Milea tersakiti dan kecewa, pokoknya jangan coba-coba untuk menyakiti Milea, nanti kamu akan hilang. Itu lah bentuk perhatian sekaligus humor seorang Dilan.

Banyak frame berlokasi di telepon umum yang pada era 90an biasanya digunakan untuk pacaran. Coba perhatikan koin yang digunakan Dilan untuk menelepon, bisa tebak kah pecahan berapa yang ia gunakan?

Akting para pemainnya juga bagus, terutama Iqbaal Ramadhan yang berperan sebagai Dilan, dirinya terlihat natural dan sesuai yang digambarkan novelnya, tapi akan sangat bagus apabila Iqbaal menaikan berat badannya sedikit saja, jangan terlalu kurus.  Saya khawatir kalau kamu naik motor nanti akan masuk angin. Di luar akting ada hal yang mengganggu, yaitu make up yang berlebihan, jadi seakan ada jarak 5cm antara bedak dan kulit. Tapi saya berfikir positif, mungkin karena itu tahun 90an dan lumrah menggunakan bedak Viva nomor 5 ke atas, tetapi bibir-bibir pemainnya menggemaskan terlihat natural.

Secara keseluruhan film Dilan 1990 layak ditonton, apalagi kalau kamu sudah pernah baca novelnya. Bagi kamu yang mengidam- idamkan sosok seorang yang romantis dan tegas, coba mulai sekarang berdoa agar mendapatkan sosok Dilan di kehidupan nyata.

Kamu yang belum nonton film Dilan, ayo segera ke bioskop karena film ini layak ditonton. Oh iya  untuk tips buat yang ingin nonton film ini, disarankan tutup mata ketika mamanya Dilan menyetir mobil saat mengantar Milea pulang. Sudah, tidak usah tanya kenapa, tonton saja nanti kalian akan tahu.

 

Baca juga:

Sarah Sechan Curi Perhatian di Bukaan 8

Kisah Inspirasi Penuh Haru di 9 Summers 10 Autumns

 

 

 

 

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here