Review Film: Lihat Aksi Matt Damon dan Andy Lau di The Great Wall
Kabar gembira film terbaru Matt Damon The Great Wall tayang lebih awal di Asia, salah satunya Indonesia pada 4 Januari 2017, sementara di Amerika Serikat sendiri baru akan tayang pada Februari 2017.
The Great Wall merupakan film terbaru dari sutradara Zhang Yimou dengan mengambil latar abad ke-15 dan mengangkat cerita sejarah didirikannya tembok besar Cina.
REVIEW FILM THE GREAT WALL
Yang berbeda di film karya Zhang Yimou ini, selain dibintangi artis Hong Kong papan atas Liu De Hua alias Andy Lau, kamu akan menikmati akting Matt Damon sebagai William Garin, seorang tentara bayaran Eropa yang datang ke China untuk mencari bubuk mesiu. Bersama rekannya Pero Tovar (Pedro Pascal), mereka tersesat dan akhirnya ditangkap oleh pasukan The Nameless Order – pasukan rahasia yang menjaga Tembok Besar dari serangan monster legendaris Tao Tei.
SINOPSIS DAN FAKTA THE GREAT WALL
Film ini adalah kolaborasi besar antara Hollywood dan China dengan budget produksi mencapai $150 juta dolar – menjadikannya salah satu film termahal yang pernah dibuat di China. Sutradara Zhang Yimou (yang terkenal lewat film-film seperti Hero, House of Flying Daggers, dan Raise the Red Lantern) membawa estetika khasnya: palet warna yang memukau, koreografi pertempuran yang megah, dan kostum yang detail. Setiap divisi pasukan The Nameless Order punya seragam dan warna berbeda – biru (Crane Troops yang bertarung ala akrobatik), merah (Eagle Troops dengan panah), hitam (Bear Troops dengan kekuatan fisik), ungu (Deer Troops dengan tombak), dan kuning (tentara teknik).
Selain Matt Damon dan Andy Lau, film ini juga dibintangi aktris Tiongkok Jing Tian sebagai Komandan Lin Mae, Willem Dafoe sebagai tahanan Eropa misterius, dan Pedro Pascal yang kemudian jadi terkenal lewat Game of Thrones dan The Mandalorian.
PENERIMAAN DAN KONTROVERSI
Meskipun dari segi visual sangat memukau, film ini mendapat review yang mixed. Banyak kritikus menyoroti isu “white savior narrative” – di mana karakter Matt Damon sebagai orang kulit putih datang untuk menyelamatkan China. Kontroversi ini cukup panas saat trailernya rilis. Tapi sutradara Zhang Yimou membela filmnya dengan mengatakan bahwa ini adalah cerita tentang kerja sama internasional, dan karakter Matt Damon bukan “penyelamat” – dia justru belajar dari pasukan China.
Dari sisi box office, film ini cukup sukses di China dengan pendapatan sekitar $170 juta, tapi kurang berhasil di Amerika dengan hanya $45 juta. Secara total, film ini menghasilkan sekitar $334 juta di seluruh dunia.
Yang bikin The Great Wall tetap menarik untuk ditonton adalah visual spectacle-nya. Monster Tao Tei yang didesain dengan konsep koloni seperti semut dengan Ratu sebagai pusatnya cukup kreatif. Adegan pertempuran di Tembok Besar dengan segala macam senjata kuno – dari trebuchet, bola api, sampai panah magnetik – benar-benar seru di layar lebar. Kalau kamu nonton film ini sebagai popcorn entertainment tanpa ekspektasi yang terlalu tinggi, kamu bakal cukup terhibur.
Kamu udah nonton The Great Wall? Gimana pendapatmu soal akting Matt Damon di film ini? Share di kolom komentar!