Lima Fakta Film The Conjuring 3: The Devil Made Me Do It
Apabedanya.com – Setelah sukses dengan dua film pertama dan berbagai spin-off di Conjuring Universe, franchise horor terseram kembali dengan The Conjuring 3: The Devil Made Me Do It. Film ini tayang pada Juni 2021 dan kembali dibintangi Patrick Wilson dan Vera Farmiga sebagai pasangan Ed dan Lorraine Warren. Tapi ada yang beda nih dari film ketiga ini. Simak fakta-faktanya!
Lima Fakta Film The Conjuring 3: The Devil Made Me Do It
1. Kasus Nyata Arne Cheyenne Johnson
Film ini diangkat dari kasus nyata tahun 1981 – pengadilan Arne Cheyenne Johnson, yang dikenal sebagai “The Devil Made Me Do It Trial.” Johnson didakwa membunuh landlord-nya, Alan Bono, namun pembelaannya adalah… dia kerasukan setan. Ini adalah kasus pertama dalam sejarah Amerika Serikat di mana pengacara menggunakan “kerasukan setan” sebagai pembelaan formal di pengadilan. Ed dan Lorraine Warren terlibat karena sebelumnya mereka membantu melakukan eksorsisme pada adik dari tunangan Johnson, David Glatzel (11 tahun), yang diduga kerasukan. Saat eksorsisme, Arne menantang iblis yang merasuki David untuk “ambil dirinya saja” – dan menurut klaim, iblis itu pindah ke Arne.
2. Sutradara Baru
Untuk pertama kalinya, James Wan (sutradara The Conjuring 1 & 2) tidak menyutradarai film utama. Tongkat estafet diserahkan ke Michael Chaves, yang sebelumnya menyutradarai spin-off The Curse of La Llorona. James Wan tetap terlibat sebagai produser dan co-writer cerita. Banyak fans yang skeptis awalnya – “Conjuring tanpa James Wan?” – tapi hasilnya cukup solid, meskipun dengan gaya yang sedikit berbeda. Lebih ke arah thriller-detektif supernatural daripada pure haunted house horror.
3. Berbeda dari Formula Sebelumnya
Kalau Conjuring 1 & 2 adalah “haunted house story” – satu keluarga, satu rumah, satu entitas – film ketiga ini adalah “supernatural detective thriller.” Ed dan Lorraine lebih banyak bepergian, menyelidiki misteri yang lebih luas. Mereka tidak terkurung di satu lokasi. Fokusnya juga lebih ke hubungan Ed dan Lorraine sebagai pasangan – ada subplot tentang kesehatan Ed yang melemah setelah serangan jantung yang membuat dinamika pasangan ini lebih emosional. Film ini terasa lebih seperti episode panjang dari serial Netflix daripada film horor jumpscare.
4. Ritual Satanic dan Occultism
Film ini menggali lebih dalam ke dunia okultisme dan ritual satanic. Berbeda dari dua film pertama yang antagonisnya adalah hantu/entitas spesifik (Bathsheba di film 1, Valak si biarawati di film 2), antagonis di film 3 adalah manusia yang menggunakan ilmu hitam. Ini memberikan nuansa yang berbeda – lebih grounded dan lebih disturbing karena “pelakunya” adalah manusia, bukan hantu.
5. Rilis Hybrid di Bioskop dan HBO Max
Ini adalah fakta penting: karena pandemi COVID-19, The Conjuring 3 dirilis secara hybrid – di bioskop dan di HBO Max secara bersamaan (di Amerika). Di Indonesia, film ini tayang di bioskop pada Juni 2021 saat bioskop baru mulai buka lagi setelah lockdown. Meskipun dengan batasan kapasitas, antusiasme penonton Indonesia tinggi – horor tetap jadi genre favorit. Film ini meraup lebih dari $200 juta secara global, menjadikannya salah satu film tersukses di era pandemi.
Kamu udah nonton The Conjuring 3? Menurutmu lebih serem yang pertama, kedua, atau ketiga? Kasus Arne Johnson ini bikin kamu percaya sama kerasukan setan atau skeptis? Share pendapatmu di kolom komentar!