|

Air di Mars Berbeda dengan Bumi

Apabedanya.com – Beberapa bulan ini dunia astronomi diramaikan dengan penemuan air di planet merah, penemuan zat liquid tersebut berawal ketika objek Recurring Slope Lineae (RSL) yang diambil menggunakan High Resolution Imaging Science Experiment (HiRISE) teridentifikasi mengandung air asin di tahun 2011. Kamu mungkin berfikir bahwa air di planet Mars akan mendukung kehidupan makhluk hidup, tapi kenyataannya jauh dari harapan.

AIR DI MARS BERBEDA DENGAN BUMI

Menemukan bukti adanya air tidak sama dengan menemukan kehidupan, teori sementara air tersebut berasal dari lapisan es di permukaan Mars terkondensasi akibat perubahan cuaca di Mars. Beda hal nya dengan air di Bumi yang berasal dari es kutub yang mencair, lalu mengalami siklus hidrologi yang kompleks – menguap, jadi awan, turun sebagai hujan, mengalir di sungai, dan kembali ke laut.

Nah, yang paling penting untuk dipahami: air di Mars itu bukan air segar kayak yang kita minum di Bumi. NASA mengonfirmasi bahwa air Mars mengandung kadar garam perklorat yang sangat tinggi. Perklorat ini semacam garam yang bikin titik beku air jadi jauh lebih rendah – makanya air bisa tetap cair meskipun suhu di Mars bisa mencapai minus 70 derajat Celsius. Tapi masalahnya, perklorat ini beracun buat hampir semua bentuk kehidupan yang kita kenal di Bumi. Jadi meskipun ada air, bukan berarti langsung bisa diminum atau dipakai buat bercocok tanam.

Beda lagi soal jumlah dan ketersediaannya. Air di Mars nggak melimpah seperti di Bumi. Yang ditemukan para ilmuwan adalah jejak aliran musiman – garis-garis gelap yang muncul di lereng kawah saat musim panas dan menghilang saat musim dingin. Jadi airnya cuma muncul musiman dalam jumlah kecil. Sementara Bumi, 71% permukaannya ditutupi air, dengan volume total sekitar 1,386 miliar kilometer kubik. Bandingkan dengan Mars yang diperkirakan cuma punya volume air sekitar 0,01% dari air Bumi (itupun sebagian besar dalam bentuk es di kutub).

Menariknya, penemuan air di Mars ini sebenarnya bukan yang pertama. Sejak tahun 1970-an, wahana antariksa Viking sudah mendeteksi jejak uap air di atmosfer Mars. Tahun 2002, Mars Odyssey menemukan es air di bawah permukaan. Tahun 2008, Phoenix Lander bahkan berhasil “mencicipi” es air Mars secara langsung. Tapi penemuan air cair di permukaan di tahun 2015 ini tetap signifikan karena sebelumnya kita pikir air cair nggak mungkin ada di permukaan Mars yang dingin dan bertekanan rendah.

Implikasinya buat misi masa depan? Bukan buat diminum langsung, tapi buat diproses. Kalau manusia suatu hari nanti ke Mars, air ini bisa diolah – garamnya dipisahkan, lalu dielektrolisis jadi oksigen buat bernapas dan hidrogen buat bahan bakar roket. Jadi bukan sumber air minum, tapi sumber bahan baku industri. NASA dan SpaceX udah mempertimbangkan ini dalam rencana misi Mars mereka.

Gimana menurut kamu? Apakah penemuan air ini bikin kamu optimis soal kemungkinan kehidupan di Mars, atau malah makin skeptis? Share pendapat kamu di kolom komentar ya!

POST A COMMENT