Apa Bedanya Impulsif dan Kompulsif
Apabedanya.com – Dua istilah psikologi yang sering disalahartikan: impulsif dan kompulsif. Sekilas mirip – sama-sama tentang perilaku yang susah dikontrol. Tapi ternyata maknanya beda banget loh! Yuk kita bedah satu per satu.
Apa Bedanya Impulsif dan Kompulsif?
Impulsif adalah perilaku yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa pemikiran panjang. Orang yang impulsif bertindak berdasarkan dorongan sesaat, tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Contohnya: melihat sepatu diskon langsung beli tanpa mikir butuh atau nggak, ngomong sesuatu yang menyakitkan karena emosi sesaat, atau tiba-tiba resign dari kerjaan karena kesal sama bos. Intinya: spontan, tanpa rencana, didorong oleh keinginan instan. Dalam istilah psikologi, impulsivitas sering dikaitkan dengan kesulitan menunda gratifikasi – pengennya sekarang, saat ini juga.
Kompulsif adalah perilaku yang dilakukan berulang-ulang untuk mengurangi kecemasan (anxiety). Orang yang kompulsif merasa “harus” melakukan sesuatu, meskipun dia sadar itu nggak masuk akal. Kalau nggak dilakukan, dia akan merasa sangat cemas. Contohnya: mengecek pintu udah dikunci berkali-kali meskipun baru aja ngecek, cuci tangan berulang-ulang sampai kulit iritasi, atau menghitung langkah kaki dengan pola tertentu. Intinya: berulang, untuk meredakan kecemasan, seringkali ritualistik. Kompulsi adalah mekanisme coping yang maladaptif – memberi kelegaan sementara tapi memperkuat siklus obsesi-kompulsi.
Bedanya simpel: Impulsif = pengen kesenangan sekarang. Kompulsif = menghindari kecemasan. Orang impulsif belanja gila-gilaan karena pengen feeling good sesaat. Orang kompulsif belanja untuk menghilangkan perasaan cemas atau void di dalam dirinya. Satu didorong oleh pleasure (kenikmatan), satu lagi didorong oleh anxiety reduction (pengurangan kecemasan).
Keduanya bisa menjadi gangguan mental kalau sudah parah. Impulsivitas ekstrem bisa jadi ciri ADHD, Borderline Personality Disorder (BPD), atau Bipolar Disorder (terutama saat fase manik – belanja berlebihan, seks berisiko, keputusan bisnis impulsif). Sementara kompulsivitas ekstrem adalah ciri utama Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Di OCD, obsesi (pikiran mengganggu yang berulang) mendorong kompulsi (tindakan berulang untuk menetralisir obsesi).
Yang bikin menarik: beberapa gangguan bisa melibatkan keduanya sekaligus. Misalnya gambling addiction – ada elemen impulsif (dorongan tiba-tiba untuk berjudi) dan kompulsif (berjudi untuk menghilangkan stres/kecemasan). Begitu juga dengan gangguan makan seperti binge eating.
Kenapa penting buat tahu bedanya? Karena treatment-nya beda. Impulsivitas biasanya ditangani dengan terapi kontrol diri, mindfulness, dan kadang obat seperti stimulan (untuk ADHD). Kompulsivitas ditangani dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) khususnya Exposure and Response Prevention (ERP) – pasien diekspos ke pemicu obsesinya dan dilatih untuk tidak melakukan kompulsi. Obatnya juga beda, biasanya golongan SSRI (antidepressant).
Kamu merasa lebih ke arah impulsif atau kompulsif? Atau dua-duanya? Pernah punya pengalaman lucu (atau nyesek) gara-gara keputusan impulsif? Share ceritamu di kolom komentar!
Hastira
makasih sharingnya
riza firli
sering banget impulsif buying ketika ke mall 🙂