Pengalaman Menonton Jazz Gunung Bromo 2019

Menyaksikan konser di pantai? Sudah biasa, namun bagaimana jika menonton konser di pegunungan dengan suhu yang dingin. Yup! Juli ini Jazz Gunung Bromo hadir kembali. Masih di open-air Amphitheater Jiwa Jawa, festival musik Jazz tahunan ini diadakan pada 26 dan 27 Juli 2019.

Jazz Gunung Bromo merupakan festival musik jazz bertaraf internasional yang digelar di tempat terbuka. Acara ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 2009 dan digagas oleh Sigit Pramono, Butet Kartaredjasa, dan Djaduk Ferianto.

 Saya yang penasaran bagaimana pengalaman menonton para musisi jazz di pegunungan Bromo akhirnya hadir di hari pertama pada 26 Juli 2019. Tiketnya bisa dipesan lewat situ resmi mereka ataupun tiket online yang berkerja sama. Mereka menyediakan tiket VVIP, VIP A, VIP B, dan festival. 

Untuk menuju ke sana saya menginap di hotel daerah Surabaya, karena penginapan sekitar sana sudah penuh. Untuk menuju Jiwa Jawa resort memakan waktu sekitar 3 jam dari Surabaya, saya menyewa mobil selama 12 jam, kira-kira biayanya Rp 400.000, ditambah uang bensin. Lumayan jika kalian pergi bersama teman-teman.Namun jika kamu menginap sekitaran lokasi, mereka menyediakan free shuttle.

Panggung Bambu Khas Jazz Gunung Bromo 2019


Foto: Tri Wahyudi @yudichu

Sesampainya di sana, saya harus menunggu penukaran tiket pukul 14:00 dan gate dibuka pukul 15:00. Sembari menunggu kalian bisa ngopi dan ngemil di  Rehat Bromo. Ingin makan berat? Mereka memiliki menu nasi goreng dan mie goreng atau rebus. 

Tak hanya di Rehat Bromo, saat penyelanggaraan Jazz Gunung ini ada food bazar sebelum pintu gate dan food stall di are Amphitheater. Pembayaran di sini serba cashless, mereka bekerja sama dengan tapcash BNI, namun tetap bisa membayar dengan kartu debit atau kredit dari bank apa saja. 

Salah satu yang khas dari Jazz Gunung Bromo adalah panggungnya yang sangat artistik. Kali ini, Jazz Gunung Bromo 2019 memilik dekor panggung dengan bambu yang melengkung. Ditambah view belakangnya perbukitan yang indah. 

Mulai dari Gugun Blues Shelter hingga Tompi Meriahkan Jazz Gunung Bromo 2019

Penampilan pertama di hari pertama Jazz Gunung Bromo 2019 ada Ngalam Jazz Comunity dari Malang. Mereka menyanyikan lagu “Don’t You Worry Bout a Thing” dan “Stayin’ Alive”. Kemudian ada penampilan band Debu, tak hanya menghibur lewat lagu-lagu mereka. Sang vokalis sempat menyampaikan pesan damai kepada para penonton. 

Kemudian ada penampilan dari Yuri Mahatma Quartet, band jazz yang beranggotakan Yuri Mahatma, Astrid Sulaiman, Helmy Agustian, dan Bagus Putu menyanyikan lagu original mereka bertajuk “Samapura”. 

Jazz Gunung Bromo 2019 kehadiran band asal Prancis, Voyager 4. Musik yang disajikan pun mencuri perhatian para penonton, mereka menampilkan nada lewat synthesizer yang terdengar futuristik.  

Setelah break ada penampilan dari Gugun Blues Shelter yang memeriahkan suasana Amphitheater. Walau suhu 13 derajat celcius, penonton riuh gembira saat mereka menyanyikan beragam lagu hits seperti “Mobil Butut” dan  “Set My Soul on Fire”. 


Foto: Tri Wahyudi @yudichu

Berikutnya ada penampilan maestro Jazz Indonesia, yaitu Idang Rasjidi. Dia pun berkolaborasi dengan penyanyi Sastrani dan Mus Mudjiono. Penonton diajak bernostalgia saat Mus Mudjiono menyanyikan lagu “Tanda-Tanda” dan “Arti Kehidupan”. 

Hari pertama Jazz Gunung Bromo 2019 ditutup oleh penampilan dari Tompi. Ia menyanyikan lagu-lagu hitsnya seperti “Menghujat Jantungku” dan “Tak Pernah Setengah Hati”.

Bagian yang menghibur dari Jazz Gunung Bromo 2019 adalah pembaca acaranya. Mereka adalah Alit dan Gundhi, mereka berdua sukses membuat lelucon-lelucon jenaka saat memperkenalkan setiap musisi. Penonton selalu tertawa saat mereka muncul di panggung. 

Jazz Gunung Bromo 2019 memberikan pengalaman yang berbeda dalam menikmati musik Jazz, momen terbaik saat sore menuju malam. Pemandangannya di belakang panggung sungguh indah. Tak hanya musik jazz, kita pun disuguhi beragam genre dalam festival musik ini. 

Semakin malam, suhu akan semakin dingin. Jadi pastikan kamu menggunakan jaket tebal,syal, membawa sarung tangan dan kupluk. Semalam suhu terendah di acara Jazz Gunung Bromo yaitu 8 derajat celcius. Kebayang kan dinginnya?

Apa Bedanya Body Serum, Body Lotion, dan Body Butter

Pernah mendengar body serum dan body butter di supermarket atau toko kecantikan? Nah apa bedanya dengan body lotion? Satu yang pasti fungsi mereka adalah melembabkan kulit. Namun apa perbedaanya?

Saat ini semua orang berlomba merawat kulit. Tidak hanya wanita, pria pun harus juga merawat kulit. Apalagi jika di dalam ruangan ber-AC atau kita berkegiatan di luar ruangan dan terkena sinar matahari, sehingga kulit menjadi tidak sehat, kusam, dan kering.

Yuk kita bahas perbedaan body serum, body lotion, dan body butter

Apa Bedanya Body Serum, Body Lotion, dan Body Butter

Body lotion merupakan pelembab kulit yang memiliki tekstur paling cair dibandingkan pelembab kulit lainnya. Biasanya dipakai setelah mandi ke seluruh tubuh, tangan, dan kaki. Body lotion cocok digunakan di iklim yang lembab. Body lotion biasanya hanya menghaluskan kulit bagian luar, jika ingin pelembab yang menutrisi bias menggunakan body serum.

Body Butter dari The Body Shop | Foto: ulta.com

Body butter merupakan pelembab kulit yang memiliki tekstur sangat pekat seperti mentega. Namanya saja butter, sungguh jelas bukan. Body butter sangat cocok digunakan di bagian tubuh yang sangat kering dan pecah-pecah, seperti siku, lutut, dan tumit.

Body serum merupakan pelembab kulit yang memiliki formula lebih ringan dibandingkan body lotion dan body butter. Selain melembabkan kulit, body serum berfungsi menutrisi kulit. Kandungan body serum berisi vitamin dan antioksidan.

Body serum dari Nivea | Foto: Nivea.co.id

Salah satu perbedaan paling menonjol dari body serum yaitu cepat diserap kulit dan tidak terlalu lengket. Body serum pun tidak meninggalkan rasa berminyak di kulit.

Jadi perbedaan body serum, body lotion, dan body butter yaitu teksturnya, manfaat dan nutrisinya. Masing-masing memiliki keunggulannya, jadi kalian lebih pilih menggunakan yang mana nih?

Baca juga: Apa Bedanya Kartu Pascabayar dan Prabayar

Review Film The Hustle, Komedi dengan Twist Yang Membingungkan

Bulan Juli ini hadir film komedi bertajuk The Hustle yang menghadirkan Anne Hathaway dan Rebel Wilson. Film ini merupakan remake dari film Dirty Rotten Scoundrels (1988), namun karakter utamanya diubah menjadi wanita.

The Hustle menceritakan tentang Josephine Chesterfield (Anne Hathaway) yang hidup mewah dari hasil menipu. Josephine merupakan penipu kelas atas, dan memiliki dua 2 crew yang membantunya menjalankan aksi.

Sementara Penny Rust (Rebel Wilson) adalah penipu kelas teri. Ia datang dari Amerika ke Eropa untuk mencari mangsa baru. Sayangnya Jo tidak suka Penny hadir di kotanya dan merusak aksinya.

Mereka bertemu dan sama-sama berbakat dengan cara yang berbeda. Jo yang tidak suka dengan keberadaan Penny mencoba melatihnya di rumah besar Josephine. Penny pun akhirnya terjun ke lapangan dengan gaya baru yang tidak terduga.

Mereka berkonflik karena upah Penny tidak diberikan. Alhasil Josephine dan Penny bertaruh siapa yang lebih jago menipu, dengan menunjuk seorang miliuner teknologi Thomas Westerburg (Alex Sharp) yang sedang berlibur di hotel.

Siapa yang lebih dulu mendapatkan uang dari Thomas, akan menang dan bertahan di kota, dan yang kalah pergi. Kira-kira siapa yang lebih unggul Josephine atau Penny?

Review Film The Hustle, Komedi dengan Twist Yang Membingungkan

Di awal film kita sudah dihibur lewat aksi tipuan konyol dari Penny alias Rebel Wilson. Rebel Wilson rasanya tidak perlu usaha keras menjadi sosok Penny, dirinya sudah natural menjadi wanita rebel, hura-hura dan jenaka.

Beragam tipuan berhasil memukau para penonton. Kemudian adegan-adegan konyol Rebel beberapa sukses mengundang tawa dan skrip sesuka hati dia. Serius, ini bukan Penny, ini Rebel Wilson di setiap film komedi.

Kemudian Anne Hathaway tampil anggun, menggoda, dan pintar memanfaatkan kelemahan dari pria yang selalu menganggap remeh para wanita. Di awal film kita diberikan informasi bahwa film ini berjiwa feminist, bagaimana para wanita mengalahkan pria.

Sayangnya menuju akhir kita disuguhkan twist yang mudah ditebak, kalau kamu sudah nonton Dirty Rotten Scoundrels, , ya pasti tahu twistnya. Namun bumbu feminist di awal tiba-tiba luntur di akhir, dan cukup membingungkan.

Jalan cerita cukup melelahkan, padahal durasi film hanya 94 menit tapi saat menontonnya, saya memeriksa jam di tangan.

Rebel Wilson dan Anne Hathaway Mengundang Gelak Tawa

Sebenarnya film ini tidak terlalu membosankan, chemistry Anne dan Rebel harus diacungi jempol. Sayangnya cerita film ini menyia-nyiakan acting mereka.

Walau begitu film ini tetap menghibur, komedi yang disajikan sukses membuat kamu tertawa. Celoteh Rebel Wilson yang ceplas ceplos, tingkahnya yang konyol dan adegan Anne Hathaway yang jago berpura-pura nangis, berhasil meriuhkan penonton di bioskop.

Komedi dalam film The Hustle menghibur dan mengundang gelak tawa. Chemistry Anne Hathaway dan Rebel Wilson menjanjikan, namun sayang akting mereka terbuang percuma karena twist yang membingungkan.

Baca juga:

Review Film: Saatnya Para Wanita Unjuk Gigi di Ocean’s 8

3 Hal Ini Bikin Kamu Malas Membaca Buku

Kapan kamu terakhir membaca buku? Zaman sekarang semua orang sibuk memainkan ponsel pintarnya dan melupakan buku. Padahal ada banyak buku bagus  yang menanti untuk dibaca.

“Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu. Mari jatuh cinta.” ucap Najwa Shihab, jurnalis dan presenter yang didapuk menjadi duta baca Indonesia. 

Berdasarkan pengalaman, saya kesulitan menyelesaikan buku padahal sudah dibeli berbulan-bulan namun hanya tergeletak di kamar. Saya pun mencari-cari apa saja faktor yang membuat kita malas membaca buku. Yuk simak di bawah ini

3 Hal Ini Bikin Kamu Malas Membaca Buku

Ponsel 

Tidak bisa dipungkiri, ponsel benar-benar mencuri perhatian semua orang. Setiap saat, sedang makan, sedang ngobrol, sedang buang air besar, ponsel selalu ada di genggaman. 

Nah saya teringat salah satu episode di serial TV Friends ada adegan di kamar mandi dan sampingnya ada box penuh majalah. Pada tahun 90an memang ponsel belum banyak dimiliki orang, sehingga orang-orang saat buang air besar membaca majalah ataupun koran. 

Lucunya ponsel merupakan salah satu faktor membuat kamu malas membaca buku. Ada saja yang dilihat di layar ponsel. Jika kamu ingin menyelesaikan sebuah buku mungkin sebaiknya ponsel kamu di set mode silent ataupun pesawat.

Serial TV 

Siapa yang tidak suka nonton serial TV? Mulai dari beragam genre asal Amerika Serikat hingga drama Korea Selatan. Kembali ke era modern, sekarang kamu sudah bisa menonton serial TV hanya lewat genggaman tangan, ya benar ponsel. 

Tahukah kamu menonton serial TV itu tidak sebentar, ada episode-episode yang menanti untuk ditonton. Belum lagi setelah selesai musim pertama ingin lanjut ke musim berikutnya hingga buku kamu penuh debu. 

Nah untuk menyiasatinya, mungkin kamu harus memberi jadwal kapan menonton serial TV kapan membaca buku. Tidak harus berlama-lama membaca buku, bahkan Najwa Shihab menyarankan setidaknya 30 menit membaca buku dalam sehari, kalau tidak sempat bisa dicicil saat pagi, siang, sore dan malam. 

Pemilihan Transportasi Umum

Pemilihan transportasi umum menuju kantor atau kampus berpengaruh loh. Jika kamu memilih naik bus atau kereta, kamu setidaknya bisa mencari sandaran dan membaca buku. Jika beruntung dapat duduk, lebih nyaman bacanya. 

Nah jika kamu naik ojek online tentu tidak bisa membaca buku, walau beberapa ada yang membaca buku di atas motor, namun cukup berbahaya.

Saat macet di jalan atau menunggu kereta, bawalah buku yang belum selesai kamu baca. Jika jenuh melihat linimasa dari setiap media sosial, ponsel-mu bisa dijadikan untuk mendengarkan musik saat membaca buku. 

Cerita yuk kamu sedang membaca buku apa di kolom komentar. 

Baca juga: Apa Bedanya Visi Dengan Misi?

Apa Bedanya Film The Lion King Animasi dengan Live-action

Walt Disney Studio sedang rajin mengadaptasi film-film animasi terbaik mereka menjadi versi live-action. Di tahun ini sudah ada Dumbo, Aladdin, dan yang akan segera rilis The Lion King. Apa bedanya film The Lion King animasi dengan live-action?

Nah untuk menjawab semua pertanyaan, sebelumnya kita sudah melihat beberapa perbedaan dari trailer perdana The Lion King. Mari kita cek satu per satu:

Apa Bedanya Film The Lion King Animasi dengan Live-action

Matahari terbit yang ikonik

Matahari terbit di awal film The Lion King sungguh ikonik. Dalam versi live-action hampir serupa hanya terlihat lebih realistis.

Antelope menengok

Begitu pula para binatang di awal film The Lion King. Salah satunya para antelope.

Gunung Kilimanjaro

Penampakan gunung kilimanjaro pun terlihat mirip seperti versi animasi.

Burung-burung Flamingo

Tak ketinggalan para burung flamingo berterbangan di atas danau.

Jejak kaki Simba

Kemudian ada adegan Simba kecil yang menapak di jejak kaki ayahnya, Mufasa.

Wildebeest berlarian

Nah berikut adegan mencekam saat para wildebeest berlarian, terlihat serupa.

Rumah Simba

Penampakan rumah Simba yang ikonik pun terlihat serupa.

Rafiki

Kemudian ada Rafiki, kerabat dari Mufasa. Versi live-action Rafiki tidak membawa tongkat.

Simba bayi

Berikut penampakan Simba muncul pertama kali yang super gemas.

Buah dan akar

Berikutnya yang terlihat jelas perbedaannya adalah buah dan akar. Di versi live-action tidak menggunakan buah melainkan akar dengan bubuk merah.

Simba diangkat ke langit

Adegan berikutnya saat Simba diangkat ke langit oleh Rafiki. Versi live-action terlihat lebih gemuk.

Rumah tercinta Simba

Selanjutnya penampakan rumah Simba bebatuan besar. Sangat ikonik dan terlihat serupa di versi live-action.

Simba mengaung

Nah versi Simba dewasa mengaung hampir serupa kecuali versi live-action tidak ada hujan deras.

Film The Lion King direncanakan tayang di bioskop 17 Juli 2019. Film garapan Jon Favreau ini dibintangi aktor-aktor ternama seperti Donald Glover, Seth Rogen, Chiwetel Ejiofor, Alfre Woodard, Billy Eichner, John Kani, John Oliver, Beyoncé Knowles-Carter, dan James Earl Jones.

Foto: Walt Disney Studio

Baca juga: Apa Bedanya Godzilla Dulu dan Sekarang

Apa Bedanya Buaya dan Alligator

Penasaran apa bedanya buaya dan alligator? Binatang reptil ini sekilas terlihat sama tapi ternyata ada perbedaannya loh. Yuk simak penjelasannya di bawah ini.

Perbedaan Buaya dengan Alligator

Buaya merupakan reptil bertubuh besar yang hidup di air. Buaya umumnya menghuni habitat perairan tawar seperti sungai, danau, rawa dan lahan basah lainnya, namun ada pula yang hidup di air payau seperti buaya muara.

Makanan utama buaya seperti ikan, reptil dan mamalia, kadang-kadang juga memangsa moluska dan krustasea. Buaya merupakan hewan purba dan evolusi buaya hanya sedikit berubahnya semenjak zaman dinosaurus.

Buaya | Foto: Wikipedia

Alligator merupakan hewan yang masih berkerabat dekat dengan buaya. Alligator hanya ada di dua negara yaitu Amerika Serikat dan Republik Rakyat Tiongkok.

Aligator memiliki moncong yang cenderung lebar ujungnya, berbentuk huruf U jiika dilihat dari atas.Sementara buaya bermoncong lebih sempit meruncing, berbentuk huruf V.

Apa Bedanya Buaya dan Alligator

Perbedaan lainnya yaitu pada gigi ke-4 di rahang bawah buaya berukuran besar dan muncul di sisi luar rahang atas apabila moncongnya terkatup. Sedangkan gigi-gigi rahang bawah aligator tersembunyi oleh bibir atasnya bila moncongnya terkatup.

Nah sudah tahu perbedaan buaya dengan alligator? Apa kamu memiliki pendapat lain. Tulis ya di kolom komentar.

Baca juga: Apa Bedanya Danau dan Laut