Ulasan Film Deadpool 2016

Marvel  bersama 20th Century Fox merilis film superhero terbarunya yaitu Deadpool. Berbeda dengan para superhero lainnya Deadpool memiliki humor cukup tinggi, jadi cukup jelas film Deadpool cukup menghibur, setelah kita menonton Ant-man reaksi kita “film ini lucu, bagus!” namun ketika menonton Deadpool “Lucu! Gilaaaaa!” itu pasti jawabanmu.

Deadpool sendiri diperankan oleh Ryan Reynolds, kita tahu bahwa ia sebelumnya memerankan karakter superhero Green Lantern pada tahun 2008 dan hasilnya tidak memuaskan atau bisa dibilang gagal. Kali ini berbeda, Deadpool pun mendapatkan antusias yang bagus dan respon positif.  Ditambah cara mereka mengemas promo-promo jenaka tentang Deadpool. Sang aktor utama pun menjadi co-produser lho di film ini.

Seperti film Marvel sebelumnya film Deadpool menceritakan bagaimana asal muasal dirinya, Wade Wilson (Ryan Reynolds) terkena kanker dan merasa frustasi kemudian didatangi seseorang yang akan menyembuhkannya dari kanker ditambah berjanji akan membuatnya menjadi superhero.

Karena putus asa Wade pun mendatangi orang tersebut. Namun dia mendapat masalah ketika proses penyembuhan membuat kulit dan mukanya menjadi berubah. Karena mukanya berubah ia tak berani muncul di depan kekasihnya Vanessa (Morena Baccarin).  Sementara nama Deadpool tercipta ketika Wade menjadi taruhan mati di klub milik sahabatnya Weasel (T.J. Miller ).

Orang yang mengubah Wade adalah Ajax atau Francis Freeman (Ed Skrein). Ia salah satu mutan member Weapon X, di film ini Ajax melawan deadpool bersama Angel Dust mutan yang memiliki kekuatan dan kecepatan super. Sementara Deadpool meminta bantuan dari mutan X-men yaitu Colossus (mutan yang tubuhnya dari baja) dan Negasonic Teenage Warhead (mutan yang dapat meledakkan atom). Mereka awalnya ingin mengajak deadpool bergabung dengan X-men.

Deadpool tampil cukup berbeda dari film superhero marvel sebelumnya, Di sini sang sutradara mengambarkan betapa konyolnya sosok Deadpool, keras kepala dan tidak bisa diatur. Ditambah lelucon-lelucon yang diberikan berhasil membuat tertawa, seperti rumah produksi yang tidak mampu membayar aktor lain ketika melihat isi rumah X-men hanya ada 2 mutan. Dan karakter Blind Al (Leslie Uggams) seorang nenek buta yang serumah dengan Deadpool benar-benar menghibur.

Sekedar saran ada baiknya orang tua harus lebih bijaksana jika mengajak anaknya menonton film ini karena banyak sekali konten dewasa. Film Deadpool mendapatkan ulasan bagus dari para kritikus, RottenTomatoes memberikan skor 84% berdasarkan 174 ulasan, dan dikabarkan film ini akan dibuat sequelnya tentu penasaran bukan jika Deadpool bergabung dengan X-men ataupun Avengers? Kita tunggu saja.

Image source: http://www.foxmovies.com/movies/deadpool

Review Film: Kisah Hitam Putih Siti

Siti, pemenang film terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2015 ini akhirnya tayang di bioskop Indonesia pada akhir Januari 2016 kemarin. Film bernuansa hitam putih ini di sutradari oleh Eddie Cahyono, yang sekaligus sebagai penulis naskah. Film ini pertama kali tayang pada acara Netpac Asia Film Festival tahun 2014.

Siti (Sekar Sari) bercerita tentang seorang perempuan di pesisir Parangtritis yang harus mencari uang untuk membayarkan utang suaminya Bagus (Ibnu Widodo) yang mengalami kecelakaan pada saat menelayan di laut dan sekarang lumpuh. Ia menjual peyek jingking bersama mertua nya Darmi (Titi Dibyo) setiap harinya, dimalam hari Siti pun bekerja sebagai pemandu karaoke.

Siti semakin frustasi ketika diberikan waktu 3 hari untuk melunasi utang dan  Suaminya belum mau berbicara padanya semenjak Ia berkerja di tempat karaoke. Sementara hadir seorang polisi yang ia kenal di tempat karaoke bernama Gatot (Haydar Saliz) menyukainya dan ingin menikahinya, teman teman Siti ditempat karaoke pun menyarankan untuk menerima Gatot. Disini lah Siti bimbang bertahan bersama suami nya yang lumpuh atau pergi bersama Gatot.

fimsiti1
Film ini mendapatakan beragam ulasan positif dari para kritikus, ini terbukti Siti mendapatkan beragam penghargaan dari dalam maupun luar negri. Siti memenangkan 3 Penghargaan di Festival Film Indonesia tahun 2015 untuk nominasi Film Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, Penata Musik Terbaik.

Sementara untuk di luar negeri Siti memenangkan nominasi Best Performance for Silver Screen Award di Singapore dan menang di acara Asian New Talent Award Shanghai International Film Festival 2015 untuk kategori Best Scriptwriter.

filmsiti4

Sebagai pemain baru Sekar Sari memerankan karakter Siti dengan maksimal, penonton pun terbawa suasana dengan ekspresi tegang dan putus asa dari Sekar Sari. Film berdurasi 88 menit menggunakan bahasa Jawa dari awal hingga akhir, sementara untuk alasan pengunaan warna hitam putih sang sutradara menjelaskan ingin melihatkan betapa tidak berwarnanya kehidupan Siti. Film Siti tentu menjadi gambaran sederhana bagaimana seorang perempuan pinggiran yang bimbang akan pilihan hidupnya.

Images source: https://iffr.com

Berkunjung ke Observatorium Bosscha di Lembang Bandung

Akhir pekan lalu saya memutuskan berkunjung ke Observatory Bosscha atau Observatorium Bosscha yang berlokasi di Lembang, Bandung. Di hari Sabtu jadwal kunjungan Bosscha dimulai dari pukul 9 pagi hingga 1 siang, itu pun hanya untuk kunjungan perorangan ataupun keluarga yang kurang dari 20 orang saja.

Sementara untuk kunjungan organisasi/sekolah di buka pada hari selasa hingga jumat. Sesampainya disana kita membeli tiket seharga Rp. 15.000/orang, untuk parkir sendiri hanya mobil yang dapet parkir di sekitaran komplek Bosscha,sementara untuk bus parkir di tepi jalan dan harus berjalan ke sekitar 1 km menuju Observatorium Bosscha.

Belajar Astronomi di Observatorium Bosscha Lembang Bandung

Observatorium Bosscha merupakan fasilitas penilitian astronomi milik Institut Teknologi Bandung (ITB). Observatorium ini di bangun oleh Himpunan Bintang Hindia Belanda pada tahun 1923 hingga 1928. Observatorium ini menjadi bagian dari kampus ITB, tahukah kamu ITB merupakan satu-satunya kampus di Indonesia yang memiliki program studi Astronomi.

Untuk penamaan Bosscha sendiri bermula dari Karel Albert Rudolf Bosscha seorang tuan tanah kebun teh pada saat itu yang bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan membantu untuk membeli teropong bintang, sebagai penghargaan jasanya Observatorium ini dinamakan Bosscha.

Teleskop Zeiss
Teleskop Zeiss

Observatorium Bosscha ini memiliki 5 teleskop besar, salah satunya adalah Teleskop Refaktor Ganda Zeiss yang paling besar. Selama kunjungan kita di perlihatkan cara kerja teleskop ini, eits hanya melihat cara kerjanya ya, jika ingin mencobanya langsung kita harus mengajukan izin proposal kepada ITB.

Teleskop ini terdiri dari 2 teleskop utama dan 1 teleskop pencari (finder), untuk diameter teleskop utama adalah 60 cm dengan panjang fokus hampir 11 m, sementara teleskop pencari berdiameter 40 cm.

Selain itu kita diperlihatkan bagaimana tempat pijakan bisa naik dan turun, kemudian kubah dari Bosscha yang disebut koepel ini dapat digeser sesuai arah teleskop yang kita inginkan. Berat dari teleskop ini 17 ton maka teleskop ini dikirimkan dari Jerman dalam keadaan terpisah kemudian dipasang setibanya di sini.

Setelah masuk ke dalam kubah dan di perlihatkan teleskop refraktor ganda zeiss, kunjungan dilanjutkan menuju ruang multimedia di mana kita menonton beragam informasi mengenai bintang, planet dan benda langit lainya. Serta kita dapat bertanya tanya mengenai apa itu meteor? Asteroid? dan lainnya.

Observatorium Bosscha pun memiliki kunjungan malam dengan membayar Rp 20.000/orang, kita dapat melihat cara kerja teleskop Zeiss (tidak meneropong) itupun jika langit cerah, tidak mendung, hujan atau berkabut biasanya hanya dibuka beberapa malam di musim kemarau. Jika ingin meneropong kita bisa menggunakan teleskop portable dan teleskop Bamberg. Untuk kunjungan malam anda dilarang mengambil foto dengan flash.

Berkembang kawasan Lembang dan Bandung Utara ini menjadi kendala di Observatorium Bosscha, dikarenakan mulai banyaknya pemukiman, villa akibat nya intensitas cahaya berlebih di daerah ini menyulitkan para peneliti  untuk melihat bintang dari Bosscha. Polusi cahaya ini membuat tim riset Astronomi ITB  merencanakan pemindahan Observatorium ke kota Kupang,Nusa Tenggara. Di sana langitnya lebih terang dibandingkan di Lembang.

Jadwal Kunjungan Bosscha

source:http://bosscha.itb.ac.id/
source:http://bosscha.itb.ac.id/

Observatorium Bosscha merupakan tempat yang tepat untuk memperkenalkan Astronomi kepada anak-anak ataupun kita yang ingin menambah wawasan, tapi ingat Bosscha merupakan tempat penelitian bukan tempat wisata.

Sekedar foto foto di komplek Bosscha di perbolehkan namun untuk mengelar tikar dan makan siang seperti piknik anda tidak diperbolehkan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kunjungan anda bisa melihat langsung ke website mereka di sini http://bosscha.itb.ac.id/